Good doesn't last forever. Neither does bad.
Dirga : Don't you hate it when the only thing you could see lies in front of you was the finish line?
Dirga : A dead-end finish line if i could clear up. It's like sprint satu puteran dan lo ngga bakal kemana-mana lagi setelah lo kelarin track yang lagi lo jalanin ini.
Jalu : You talking shit again. Let me guess, Kirana lagi kan ini?
Dirga : Hahaha. Sampah lo. Dia berangkat minggu depan. Dan gue ngga ngerti musti ngapain.
Jalu : Lagian, fakir banget lo kalo soal ginian. Pesimis aja kepala lo isinya. Paranoid wreck.
Dirga : I wish i can edit myself
Jalu : Gue pernah baca,lupa gue dimana, that if all you're concerned about is winning, you'll never stop worrying about losing.
Dirga : Hahaha ngga nyambung lo. Sejak kapan gue bilang concerned about winning? Gue cuma belom siap mulai lagi. My last relationship, lo ngerti sendiri, messed up
Jalu : But you know that even good doesn't last forever, bad doesn't either kan?
Dirga : I know. I just don't want to rush this. I can't either hold her or let her go.
Jalu : But you'll never give yourself a chance kalo gitu lo mikirnya. Nyesel lo ga bakal abis kalo ntar beneran si Kirana pergi dan bukan buat balik-balik lagi. Throw up your dice and surrender the rest.
Dirga : Sumpah ngga segampang itu Lu'. Gue juga ngerti teorinya, but when it comes to the moment i have to face her, i'm speechless. I know you must think that i'm a sissy chicken hearted man
Jalu : Nah itu ngerti lo. One thing that you must remember, that the difference between pain and love is time. Kirana mungkin jatuh cinta sama lo sekarang, dan dia bakal ngerasa kehilangan sama besar sama lo saat dia harus pergi. But it won't last forever. Just as long as time let it last, then time will make her let it go. Sedih kan lo
Dirga : Hahaha geli gue denger lo ngomong wise gini. But thank you anyway. I know i'll figured it out. I'll chase that slow-moving hope. Hahaha, alah ngomong apa kan gue ni jadinya
Jalu : Hahaha, ketularan Tara gue nih kayanya. Makin-makin aja gue terpesona sama dia.
Dirga : Udah sejauh apa emang lo?
Jalu : Alah udah kelarin aja dulu ini kisah cinta super ribet lo ini baru lo nanya-nanya soal gue sama Tara.
Dirga : Hahaha. monyet lo emang
Jalu : Hahaha. Eh,balik duluan gue Ga, musti jemput si Acel segala soalnya, berangkat bareng gue tadi pagi. No more fears to fear ya , a man's gotta do what a man's gotta do
Dirga : Hahaha main kabur aja lo, abis lo bikin bingung gue sekarang.
Dirga : Salam buat kembaran lo. Bilangin salam juga dari Sane, biar girang tu anak
Jalu : Hahaha. Siap. Pamitin nyokap lo ya, balik gue..

Cinta Itu ?

Jadi, kalo menurut kalian cinta itu adalah..

  • “Ketika sekalinya gue buka facebook, yang pertama kali gue cek adalah profil dia, bukan profil gue sendiri. Hahahaha, geli gue berasa ABG.” (Sane, 24)
  • “Ketika cuma incoming call dari dia yang bisa bikin True-nya Spandau Ballet berkumandang di HP gue.” (Dirga, 22)
     
  • “Ketika gue segitu spanengnya nungguin balesan sms dari orang ini, sampe mati-nyalain HP tiap 15 menit sekali. So lame.” (Tara,21)
     
  • “Ketika gue betah-betah aja diajakin muter-muter dufan seharian padahal gue phobia badut dan ngga suka tempat rame. Cuma buat nemenin dia tenggelam sama hobinya.” (Arka, 23) 
  • “Sebuah keribetan luar biasa.” (Janitra, 23)
  • Ketika gue bisa tiba-tiba senyum-senyum sendiri setelah emosi jiwa seharian cuma gara-gara swapping stories sama orang ini lewat IM.” (Kirana, 22)
     
  • Ketika gue melihat Sane.” (Acel, 22)
      
  • “Ketika  gue merasa connected sama seseorang. Dan cuma sama orang ini.” (Jalu, 22)


Time Will Tell, Isn't It ?
Kirana : Don't you hate it when the only thing you could see lies in front of you was nothing but distance? A non-promising distance if i could clear up.
Arka : Hahaha. I've been there. Come what may, Na. Just let tomorrow happen as it should.
Kirana : I don't know. Maybe i'm just too selfish to make piece to the past.
Arka : The past. Yeah i know, it's backbiting us sometimes.
Kirana : Hahaha. But i'm about to done with mine kok. I'll try to trust whatever tomorrow may brings. Like i've always believe, time will tell
Arka : Good then. And try to stop mistrusting your, what is his name again? Dira? or who?
Kirana : Dirga. His name was Dirga.
Arka : Yah you name it lah..
Kirana : Hahaha, i love how you always knows me that well.
Kirana : And what about you and mba Jani?
Arka : Hahaha, what about what?
Kirana : Friendzone isn't it? Hahahaha, stupid sih lo..
Arka : Hahaha ngerti apa deh lo soal gini-gini Na. Anything between me and Janitra was only friendship. .
Kirana : Boleh si kak kalo naik pangkat juga. Udah sahabatan dari kecil ini kalian, mau nyari apa lagi coba. Janitra juga lebih dianggep anak sama ibu ketimbang lo.
Arka : It's never as easy as it seems. We've been good, and i don't want to ruin this.
Kirana : Kan. You risk nothing again. Selalu ya. Ibaratnya judi nasib, you are the worst gambler in the universe ngerti ngga.
Arka : Hahaha, ngga ngerti aja sih lo. Kita ngga pernah ngebahas itu. Bahaya bahas-bahas gituan sama Janitra. Lagian,we always back off even before we ever try to start.
Kirana : Or maybe you both are just too scared?
Arka : Hahaha. We better play our parts like this lah. She's a perfect partner in crime, and we can't stand losing each other kalo sampe kita sok-sok pacaran dan putus.
Kirana : Gimana kata lo aja lah kak, hahaha. Ngurusin hidup gue sendiri aja ngga kelar-kelar ini, gimana gue ikutan ngurusin lo sama mba Jani.
Arka : Hahaha. Like you've always said as well,time will tell
Kirana : Exactly. Time will tell

Asmara Arka - Janitra : Pertama

It’s a very hard rain outside.

Yeah, the weather is getting weirder each day. Kadang siang panasnya bisa benar-benar panas, kemudian ngga sampe sejam kemudian bisa jadi hujan lebat, selebat-lebatnya.

Seperti sore ini.

And this hard rain brings me to a scene almost a week ago. It was a not-so-good scene actually. It’s a fighting scene, emotionally if i could clear up, between me and Janitra. We had a quite big fight, and it’s a bit faint what we’re argued about. All that i could remember was at the end she left me and pass me over till today. Well, actually she calls me the next day, but i can feel the emptiness inside her voice. It’s like it was being forced. Hahaha, girls. You know, sometimes they fake anything. And it’s been 4 days we didn’t apprise each other.

Don’t ask me if i miss her, that’s not the point we’re talking about.

- A

—————-

Halaah,hujannya gede banget di luar. Alamat ngga jadi cari buku ini sih. Kayanya tadi masih panas-panas aja, ini kenapa jadi wadam banget

And a very hard rain like this reminds me to that stupid A.

Again.

After our fight almost a week ago, it’s been 4 days without swapping stories with him. Well yes, we had a big fight and for me i was his fault. I don’t know what’s exactly the problem is, all that i could remember is that he was very very very extremely annoying that day. I know it might be my fault, considering i was on my period that day so it’s clear that he had fought with the monster version of me.

But don’t put all the blame on me dong, kan kalo si Arka ngga bertingkah menyebalkan ini semua juga ngga bakalan terjadi dan kita ngga bakal jadi diem-dieman berhari-hari gini. Dan lagipula i’ve tried to call him first, the next day after we had fight. But then, i remember the fighting scene again, and i got mad again (hahaha kinda bipolar), then i hang up the phone before it continues into a phone call warfare.

And the most annoying thing is that he didn’t call me back or at least try to find me in this 4 days. Haah! You won’t make me call you first, you should know that, A, i’m still pundung!

But then, i really hate to admit that yes, i do missing him right now..

- J


Dufan's Randomness
Late at night, after another randomness
X : Intinya tuh satu, kamu ribet.
Y : Hahaha, i know. I'm too busy messing around with my mind. Trying to figure out something that can't be understood just by theoritical appraisement.
Y : Ibaratnya di dufan nih, orang-orang lagi pada seru teriak-teriak naik halilintar, aku masih muter-muter aja naik merry go round. Lambat.
X : Mending kalo lambat tapi sempet naik ke atas kaya bianglala. Lha ini kamu muter-muter doang, sambil nyiapin mental buat naik wahana ekstrim
Y : Or worse, istana boneka
Y : And by the time i'm ready, orang-orang udah pindah dari halilintar ke kicir-kicir. Atau hysteria
X : Pas kamu udah siap dufannya udah mau tutup.
Y : Namanya orang takut muntah gimana deh..
X : Ya tapi kalo kelamaan nyiapin mental buat ngga muntah sampe kapan juga kamu bakal muter-muter di wahana cupu terus
X : Mungkin emang yang bener tuh kita naik yang ekstrim dulu kali ya seharian, ngerasain muntah, ngerasain jejeritan. Terus tar kalo udah cape baru naik yang nyantai kaya merry go round atau istana boneka. Tinggal ngabisin capenya.
Y : hahaha yowes ngga usah ke dufan, di rumah aja nonton film
....
kok jadi sampah segala dufan jadi disambung-sambungin.hahaha

"You can’t have everything, and this is why you always have to choose. You can’t be just “in between"

— And funny how sometimes, as we start to believe that there’s something called ‘white’, we, at the end of the due time, still have choose the black one because we can’t be 49% white
Dalam Doaku

Ini buat saya universal.

Kenapa saya repost? Adalah karena..

Ngga tau juga sih, karena suka aja. Hahaha *merusak suasana*

Dalam doaku subuh ini, kau menjelma langit yang semalaman tidak memejamkan mata,
yang meluas bening, siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesah entah darimana

Dalam doaku sore ini, kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang , lalu hinggap di dahan mangga itu

Magrib ini, dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu mataku

Dalam doa malamku, kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(Sapardi Djoko Damono, Dalam Doaku, 1987)


Konsistensi Untuk Mengisi

Jadi ceritanya, 2 hari yang lalu saya diajakin temen ( @agyakumala) buat ikutan semacam acara taunan bertajuk #30harimenulissuratcinta. Intinya kita harus bikin 30 surat cinta dari 14 januari 2012 - 14 februari 2012 di blog kita lalu, di cc ke panitia untuk dimuat d offcial webnya penyelenggara. Dengan iming-iming hadiah (padahal ngga ada yang bilang berhadiah juga sih, saya berasumsi sendiri itu) akhirnya saya memutuskan buat ikutan. Yang jadi masalah pada awalnya adalah, saya udah terlambat buat ngepost surat hari pertama (which is 14 januari). Okelah, saya mulai dari hari kedua aja. Yang jadi masalah berikutnya adalah, saya mau kirim surat buat siapa?. Hahaha yang ini rada sulit. Kalo mau buat mama atau papa, oke sih, tapi selama 30 hari mungkin tidak akan banyak hal yang terlalu bervariasi terjadi dalam hubungan saya dengan mereka. Kalau buat barang, saya juga ngga nemu barang apa yang segitunya sampai saya pikir harus saya kirimin surat. Buat teman-teman. Hahaha, kalo dibaca malu amat.

Akhirnya, saya  putuskan untuk mengirimkan surat ini kepada tokoh imajiner yang saya buat sendiri. Dirga. Kalau ada yang pernah baca bualan-bualan #theluckynumber saya, Dirga ini adalah si tokoh pria, pasangannya Kirana. Siapa yang menginspirasi sosok Dirga saya juga ngga tau, yang jelas saya bisa lancar babbling out about Dirga. Okelah, masalah kedua selesai. Suratnya akan saya tujukan kepada Dirga.

Hari pertama lancar, saya cc-in ke panitia. Hari kedua, saya mulai tidak konsisten. Tertulis sih suratnya, tapi buntu. Saya ngga tau mau ngomong apa lagi sama Dirga. Mungkin pengaruh saya lagi ujian juga, jadi ngga bisa terlalu mikir buat ini. Yang jelas, baru hari kedua, saya udah skip ngga nge-cc in surat cinta imajiner saya ke panitia.

Dan ini baru hari ketiga, saya udah makin males aja. Hahaha *toyor*

Mungkin memang perasaan ngga bisa dijadwal ya. Sekeluarnya aja. Bisa jadi dalam sehari saya randomly talking about Dirga seolah-olah dia adalah nyata *terlepas dari dia kadang juga menjadi pelampiasan colongan,hahaha* tapi hari lain, it seems like just another day, like any other day dimana Dirga memang tidak ada dalam keseharian saya.

Sepertinya yang saya butuhkan memang menjadi konsisten dulu terhadap apa yang saya mau. Baru setelah itu saya bisa benar-benar terafiliasi pada sesuatu, atau seseorang.

Dan akhirnya, kita sampai pada penghujung tulisan ngga ngerti apa maksudnya ini. Saya butuh konsistensi untuk bisa mengisi. Kalau sekarang saya masih on-off on-off seperti listrik di daerah transmigrasi, berarti saya memang belum cukup punya kapasitas untuk memenuhi kebutuhan sebesar yang dituntutkan saat ini..

Mungkin setelah ini akan ada surat-surat lain kepada Dirga. Surat-surat di luar kompetisi, yang tidak harus berakhir di 14 februari. Hahaha, *semaumu lah cha..


Katakan Padaku, Apa Bisa Kujatuhkan Hatimu Dengan Segenggam Pasir?

Aku ingin memesonamu dengan hal-hal yang bukan hanya lahir
Supaya kau yakin, bahwa memilihku bukan keputusan yang pandir
Karena bagiku kau adalah pemberhentian terakhir

Namun sampai hari ini yang kumiliki baru segenggam pasir
Tentu saja tak akan kukatakan padamu bahwa yang ada di tanganku ini adalah batu-batu safir
Sekalipun aku ingin, namun kebohonganku selalu berhenti sebelum sampai di ujung bibir
Karena kau selalu tahu, bahwa untuk mendusta aku tidak pernah mahir
Dan untuk mencari arti segenggam pasir, ah aku juga bukan ahli tafsir

.

Muahahaha, siapa gitu pemberhentian terakhir?


Kapsul Waktu, Jamu, dan Surat-Suratku Untukmu

Setelah pergi entah kemanamu yang sudah hampir tak dapat kuingat lagi itu,
Hari ini, sekelebat kau lewat, dan entah bagaimana, aku tahu
Segera aku mengingatkan diriku sendiri untuk menutup jendela, dan kembali dalam kelambu yang membuatku tak dapat melihatmu
Karena melihatmu nyatanya tidak pernah benar-benar sesederhana itu
Seperti pertama kali, aku akan mencecap harap, menelan kenyataan, kemudian meringis, karena hatiku kembali teriris dan membentuk luka baru
Kau harus tahu, ini ngilu.


Bukan karena aku memang mencintaimu
Dan pergimu, ketidakhadiranmu, membuatku jemu
Ini lebih karena kamu telah menjadi seperti candu
Ah bukan kata yang tepat buatmu
Kau sesungguhnya lebih mirip jamu
Kau tahu aku aku benci jamu, tapi ibuku selalu bilang ini baik untukku
Kau tahu aku berdebar tiap bersamamu, tapi mencintaimu adalah jalan buntu 
Aku tahu kau mungkin sedang mengutukku karena aku salah mengumpamakan seperti apa dirimu buatku
Tentu saja aku tak pernah membencimu, dan ibukku tak pernah bilang kau baik untukku.
Tapi  ini benar, kau nyatanya pahit seperti jamu 
Memang aku bisa menjadi cantik karenamu, namun itu bila aku mau menahan sedikit pahit di lidahku
Dan asal kau tahu, lidahku sudah cukup kelu untuk itu..

#eaaa
Bikin ginian adalah guilty pleasure banget waktu jaman SMP
Temen saya Ezra pernah liat “kotak harta karun” yang isinya tumpukan surat, buku-gaul (hahaha, no, it was buku galau  actually) yang isinya monolog-monolog ketidakstabilan hati saya.

Ya, saya suka berdialog dengan diri sendiri. Saya suka memproyeksikan masa depan saya sendiri. Semau-mau saya saja.

Kadang juga berupa surat-surat yang tak pernah sampai.

Surat untuk satu orang yang sama setelah sembilan tahun ini. Surat untuk dibaca 10 tahun dari saat saya menulisnya, (yang mana itu adalah tahun depan)
Surat yang sesungguhnya saya buat untuk kami baca bersama. Berdua, dan akan membuat kami tertawa karena merasa surat-surat ini sebagian besar menjadi kenyataan.
Surat-surat rahasia yang ingin kami kubur bersama dalam kapsul waktu dan kami tanam di halaman belakang sekolah, yang akan kami gali sepuluh tahun kemudian lagi untuk tahu apa isinya.

Namun nyatanya surat-surat ini hanya berhenti sampai di kotak sepatu.
Seperti kapsul waktu yang tidak pernah jadi kami buat, surat-surat ini juga sepertinya tidak akan pernah kami baca bersama.

Tapi yang saya tahu pasti, akan ada hari yang membuat saya bahagia lebih dari apa yang saya bayangkan 9 tahun lalu. Tanpa kapsul waktu. Tanpa surat yang menggebu-gebu.

Dan tanpa pria yang hanya dengan membayangkannya saja terasa pahit seperti jamu.


Cinta Itu (seringan) Ribet ya?

Kalau. Ini hanya kalau.

Kamu menyukai seseorang yang memperhitungkan kamu tapi merasa kamu tidak cukup untuk dia sementara di sisi lain dia juga tidak merasa pantas buat kamu. Kalian sama-sama menyimpan kekaguman satu sama lain, tapi klian juga menyimpan keraguan masing-masing. Ketika kalian dihadapkan pada situasi dilematis antara bagaimana kalian merasa nyaman dan bagaimana kalian dipandang orang.

Ribet kan?

Kamu menjalin hubungan dengan seseorang tapi keadaannya tidak memberi celah untuk kalian memproyeksikan angan-angan tentang masa depan. Sementara untuk berhenti dan mencari lagi kalian sudah terlalu lelah. Diteruskan sulit, dihentikan sakit.

Ribet ngga?

Kamu setengah mati jatuh cinta pada satu orang yang sama, bertahun-tahun, tapi hubungan kalian disahkan dalam bentuk lain : persahabatan. Mau maju kamu tidak punya cukup nyali, mau mundur kamu tidak pernah menemukan dirimu siap. Sementara stuck di tengah-tengah seperti sekarang rasanya juga melelahkan.

Yang ini ribet juga?

Kamu punya rasa. Kamu mampu membahasakan dan mengartikannya. Sendiri. Ya, sendiri, karena kamu tidak mampu menyampaikan kepada orang yang membuat kamu merasakannya. Yang membuat kalimat-kalimatmu tertahan juga entah apa. Apapun itu, nyatanya sanggup membuat kamu pada akhirnya hanya bisa menyimpan. Menumpuk-numpuk perasaan yang sama, pada orang yang sama, untuk waktu yang lama..

Ribet

Jadi intinya apa? Cinta itu ribet kan?

hahaha, i know, i know, i’m prejudice sometimes, when it comes to love. Padahal kan cinta itu bisa jadi indah, penuh makna, mengalihkan dunia, atau apalah. Tapi seperti koin, cinta punya 2 sisi.

Dan pada sisi yang ini, kita tidak pernah bisa menutup mata


THEME BY PIXIE-LIKE